Percakapan yang seru itu tiba-tiba hening sesaat. Ini semua karena pembahasan kedua orang itu memang cukup serius. Entah mengapa mereka bisa memilih topik pembicaraan sebesar itu di kedai kopi yang sederhana ini. Mereka membahas tentang peimpin-pemimpin mereka.
Awalnya, kedua orang itu sangat antusias satu sama lain. Terkadang rupa wajah mereka menunjukkan ekspresi kekesalan. Terkadang juga menunjukkan warna wajah optimis. Aku tidak termasuk dalam perbincangan mereka itu, tapi jarak meja yang bersebelahan membuat aku dapat mendengar mereka dengan cukup jelas.
Aku memang sengaja mengambil bagian meja panjang di depan penjaga kedai, karena aku memang datang kesini sendiri. Sedangkan mereka tepat dibelakangku, tepatnya di meja untuk dua orang. Namun, yang membuat percakapan ini menjadi hening sesaat adalah pertanyaan dari si pria memakai topi itu.
"Lalu, apakah kau sudah puas dengan sifat pemimpin di negeri ini saat ini?"
Situasi sedang hujan cukup deras. Pertanyaan itu seolah dilibas oleh air hujan melalui genteng yang terbuat dari seng yang bertugas sebagai pelindung atas bangunan kedai ini. Setelah menyeruput kopi yang masih hangat, sekitar beberapa detik kemudian orang berjaket jingga yang menjadi lawan bicara pria bertopi itu pun membuka suara.
"Entahlah boi, aku sama sekali tidak tertegun dengan sikap pejabat-pejabat itu. Gaya bahasa mereka terlalu elit untuk ku mengerti. Aku juga tak paham mengapa mereka bisa ketawa-ketawa seperti itu, padahal disaat itu juga ada orang yang memunguti sampah untuk mengisi perutnya."
"Lalu, pemimpin seperti apa yang kau kagumi?"
Sekali lagi dia menyeruput kopinya yang tinggal setengah gelas itu sambil melihat keluar jendela kaca. Pria berjaket jingga itu menjawab sambil melihat keluar jendela, entah mengapa.
"Pemimpin yang sering menangis boi."
"Menangis?"
"Yap, aku merindukan pemimpin yang sering menangis. Bukan karena dia cengeng. Tapi karena di setiap hari ia menjabat, ia masih merasa belum maksimal dalam kepemimpinannya. Dan juga menangis karena dia terus memikirkan orang-orang yang masih kelaparan, bagaimana seorang pengamen kecil bisa kuliah, bagaimana seorang bapak lumpuh akan bisa menafkahi keluarganya, dan bagaimana dia bisa membuat rakyatnya bisa lebih sejahtera dibanding kehidupannya sendiri. Itu pemimpin yang aku rindukan, boi. Pemimpin yang sering menangis karena hal-hal itu."
Pria bertopi tak membalas jawaban dari temannya itu. Ia hanya meminum kopinya setelah mendengar jawaban dari temannya.
Aku tertegun, dadaku sesak. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang setelah mendengar jawaban pria berjaket jingga itu.
Apakah ada orang semacam itu di zaman ini? kupikir. Ah, entahlah.. Hujan mulai reda, aku harus bergegas pulang.
Komentar
Posting Komentar